Banda Aceh – Pro dan kontra pembelian saham Persiraja Banda Aceh 80 persen oleh pengusaha H.Nazaruddin alias Dek Gam menjadi perbincangan hangat dikalangan pecinta si kulit bundar.

Beberapa diantaranya mendukung namun tidak sedikit yang meragukan nasib Persiraja di tangan Dek Gam.

Mereka melirik sinis akuisisi Persiraja oleh Dek Gam mengatakan Persiraja akan hancur jika dipimpin oleh orang yang tidak mengerti tentang sepakbola.

Beberapa haters Dek Gam kerap berkomentar di media sosial terkait nasib Persiraja.

Bahkan pengunduran diri Zaini Yusuf dari posisi manajer Persiraja dikaitkan dengan pembelian saham oleh Dek Gam.

Namun hal itu langsung dibantah oleh Zaini yang sudah beberapa bulan ini memanajerial Persiraja.

“Saya mundur karena khawatir tidak punya banyak waktu untuk Persiraja,” kata Zaini.

Kembali ke Persiraja, sepakbola identik dengan politik. Mulai induknya saja PSSI sudah digoyang kisruh lantaran elit politik yang membuat liga mati suri. Campur tangan politik dan tarik ulur kepentingan membuat Indonesia disanksi FIFA.

Selama ini tim formatur yang dipimpin Walikota Banda Aceh terpilih H.Aminullah Usman sudah bersusah payah menjual saham Persiraja ke pihak swasta.

“Tak ada yang berminat membeli saham mayoritas Persiraja,” ujarnya.

Disaat detik-detik akhir nasib kepemilikan Persiraja belum menemui titik jelas, tiba-tiba pengusaha Aceh, Dek Gam angkat suara akan mengakuisisi Persiraja.

Banyak pihak yang terkejut, ada yang mendukung namun tidak sedikit yang meragukan kualitas Dek Gam memimpin tim sepakbola yang punya nama besar di Aceh.

Persiraja yang hanya bermain di kasta kedua Liga Indonesia Baru tidak memiliki nilai tawar yang tinggi. Minimnya sponsor yang tertarik mendukung tim Liga 2 menjadi alasan bagi tim-tim Liga 2 kesulitan mendapatkan sponsor.

Lantas, disaat semuanya angkat tangan terkait nasib Persiraja, tiba-tiba muncul sosok pengusaha yang rela membuang uang demi Persiraja malah dipandang sebelah mata oleh segelintir orang.

Padahal, sudah hampir dipastikan membeli klub Liga 2 sama dengan membuang uang. Namun kenapa Dek Gam turun tangan melihat kondisi Persiraja.

Sekretaris Umum Persiraja, Rahmat Djailani mengatakan Dek Gam terpanggil untuk membantu Persiraja.

“Kepedulianlah yang membuat Dek Gam akhirnya membeli 80 persen saham Persiraja. Tak ada yang berminat membeli saham Persiraja, inilah wujud kepedulian Dek Gam terhadap tim legenda tanah rencong,” katanya.

Persiraja sejauh ini mencatat hasil positif saat laga ujicoba. Para pemain masih terlihat bersemangat latihan apalagi setelah ada kejelasannya dari manajemen baru.

Mengakuisisi klub Persiraja yang hidup segan mati tak mau adalah langkah berani dari pengusaha Aceh Dek Gam.

Ini juga menjadi ajang pembuktian reputasi dirinya, jika Dek Gam mampu membenahi Persiraja dipastikan namanya akan semakin melejit dan akan banyak membantu dirinya jika kembali bertarung di Pileg 2019, mirip dengan fenomena Irwan Djohan dan Iqbal Djohan yang dianggap suskes menggerakan SKULL sehingga terpilih menjadi wakil rakyat. Dan juga pembuktian Dek Gam terhadap para ‘haters’.

Namun Persiraja juga akan menjadi bumerang baginya jika gagal membenahi tim kebanggaan masyarakat Aceh ini. Namanya akan meredup jika Persiraja gagal bertahan di Liga 2 atau terdegradasi.

Mengakusisi saham Persiraja sebesar 80 persen memang ngeri-ngeri sedap. Jika Persiraja lolos ke Liga 1 dipastikan saham akan meningkat pesat, sponsor besar pun siap teken kontrak, namun jika hanya bertahan di Liga 2 atau turun di Liga 3, berarti saham akan anjlok dan sponsor semakin jauh.

Sudah seharusnya kita berterimakasih kepada sosok Dek Gam yang rela mengeluarkan uang pribadi membeli tim ‘sakit’ yang sudah kronis puluhan tahun.

Kita doakan manajemen baru bisa memberikan kenyamanan bagi para pemain, pelatih, asisten dan staf agar konsentrasi penuh menghadapi kick off 23 April nanti.

Kita tentu tak ingin mendengar kisah lama, pemain Persiraja telat makan siang, gaji 3 bulan menunggak, dan sebagainya.

Persiraja kini sudah berbentuk badan hukum, dan semuanya tergantung dari pemilik klub, mau dibawa kemana hubungan kita seperti kata Band Armada.

Salah satu pemasukan klub adalah dari tiket pertandingan, karena itu budayakanlah membeli tiket sebagai bentuk dukungan warga kepada Persiraja.

Di tangan Dahlan Jalil, yang dipercayakan sebagai Ketua Panpel diharapkan tidak ada lagi cerita Panpel merugi usai   pertandingan. Semuanya harus di kelola professional.

Mari kita dukung manajemen baru Persiraja yang akan berupaya sekuat tenaga mengembalikan marwah kejayaan Persiraja, tim kebanggaan tanah rencong.

Kita doakan musim depan Persiraja pindah homebase ke Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya lantaran berkompetisi di Liga 1.

Kerinduan luar biasa dari pecinta si kulit bundar di Aceh yang ingin menyaksikan laga bergengsi seperti Persiraja vs Persija Jakarta, Persib Bandung, Persipura Jayapura, Arema Malang, Semen Padang, Sriwijaya FC, Bali United, PSM Makassar dan tim-tim elit Liga 1 lainnya.

Stadion Lhoong Raya pun akan kembali bergema menjadi markas besar tim Lantak Laju, Bek Ka Tem Taloe. (editorial)

Foto: Skull

Facebook Comments