Jangan Biarkan Persiraja Berjuang Sendirian di Liga 1

Banda Aceh – Menjadi saksi hidup perjuangan tim Persiraja di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali adalah momen terindah bagi saya.

Dua kali rakyat Aceh dibuat menangis oleh drama perebutan tiket ke Liga 1 musim 2020. Pertama saat kekalahan adu penalti melawan Persik Kediri. Dan kedua saat peluit akhir babak kedua usai laga melawan Sriwijaya FC dan memastikan satu tiket terakhir ke Liga1 musim 2020.

Saat itu air mata rakyat Aceh dan pecinta sikulit bundar tumpah saat Husnuzhon gagal mencetak gol saat adu penalti. Padahal sebelumnya asa itu muncul kembali usai Fakhrurrazy Quba mengagalkan sepakan pemain Persik Kediri dan menyamakan kedudukan 4-4.

Memang saat itu Husnuzhon belum prima 100 persen karena kondisi cedera dan memiliki beban mental yang cukup sulit.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman yang berada di podium VVIP pun terdiam dan matanya tampak berkaca-kaca melihat kegagalan adu penalti Persiraja atas Persik Kediri.

Aminullah ‘Carlos’ Usman, mantan bek kiri tangguh yang pernah memperkuat Bank Aceh  tetap menghibur pemain Persiraja yang terduduk lemas di ruang ganti.

Aminullah memberikan spirit untuk bangkit dilaga menentukan melawan Sriwijaya FC. Namun sayangnya karena jadwal kegiatan yang super padat, Aminullah harus kembali ke Banda Aceh dan tidak bisa mendampingi tim.

Di Banda Aceh, Aminullah menggelar nobar bersama pegawai Pemko Banda Aceh di Pendopo Wali Kota.

Lantas bagaimana kunci keberhasilan Persiraja lolos ke Liga 1. Ternyata diam-diam Presiden Persiraja, Nazaruddin Dek Gam memanggil satu persatu pemain kedalam kamarnya, malam hari sebelum laga melawan Sriwijaya FC.

Dek Gam berbicara hati ke hati kepada para pemain. Bahwa pertandingan melawan Sriwijaya FC akan menjadi pertandingan paling menentukan dalam karir pemain, akan menjadi kisah yang akan diceritakan hingga ke anak cucu mereka. Saat itu, ayah atau kakeknya pernah berjuang dan lolos ke kasta tertinggi sepakbola tanah air.

Pemanggilan para pemain ini, tak diketahui oleh pelatih dan asisten pelatih. Dek Gam ingin para pemainnya memiliki daya juang tinggi dan bebas dari isu suap pemain yang kerap melanda kostestan Liga Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, kegagalan sebuah tim dalam Liga Indonesia lantaran ada pemain yang dibeli oleh klub lawan dalam laga penentuan baik laga promosi ataupun degradasi.

Hal ini yang dicegah oleh Dek Gam, sosok anggota Komisi III DPR RI yang ingin sepakbola Indonesia bersih dari mafia.

Sebagai pengusaha sukses di Aceh dan Sumut mudah saja bagi Dek Gam jika ingin membeli pemain lawan baik itu Persik ataupun Sriwijaya FC dalam laga penentuan di Bali.

Namun Dek Gam ingin lolosnya Persiraja ke Liga 1 bukan karena suap pemain, tetapi murni karena perjuangan Laskar Rencong hingga titik darah penghabisan.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya tim Persiraja Banda Aceh jika saat itu Aminullah Usman tidak terpilih menjadi Wali Kota Banda Aceh.

Bahkan, seorang anggota DPRK berkelakar jika bukan Pak Amin Wali Kota mungkin Persiraja sudah bubar seperti nasib klub lainnya di Aceh.

Kisah Dek Gam menyelamatkan Persiraja lantaran diminta oleh Wali Kota Banda Aceh yang tak lain adalah mertuanya. Wali Kota Banda Aceh dalam kampanyenya berjanji akan mengembalikan kejayaan Persiraja.

Dek Gam pun masuk didetik-detik akhir saat nasib Persiraja tak menentu. Dirinya membeli saham mayoritas klub dan misi pertama menyelamatkan Persiraja dari degradasi ke Liga 3 musim 2017.

Saat itu, tak ada satupun pengusaha Aceh yang berani mengakuisisi Persiraja, hingga akhirnya Dek Gam pasang badan mengambil alih Persiraja.

Musim pertama memimpin Persiraja sekitar Rp 5 Miliar dikorbankan Dek Gam dalam misi menyelamatkan Persiraja di Liga 2. Musim selanjutnya lolos ke babak delapan besar namun gagal ke Liga 1 dan lagi-lagi Miliar rupiah dikeluarkan Dek Gam .

Di musim 2019, Dek Gam bercerita hampir Rp 10 Miliar dikeluarkan untuk target lolos ke Liga 1. Sedangkan pemasukan dari sponsor tak sampai Rp 500 juta.

Kini, pengorbanan yang dilakukan oleh Dek Gam berbuah hasil manis. Lolosnya Persiraja ke Liga 1 akan menjadikan semangat bagi pesepakbola di Aceh untuk terus berprestasi dan memiliki mimpi memperkuat Persiraja.

Seperti dikatakan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Persiraja bukan lagi milik Banda Aceh tetapi milik rakyat Aceh. Seperti Persib Bandung yang merupakan milik Jawa Barat,  PSM Makassar yang merupakan marwah Sulawesi Selatan, atau Persipura Jayapura yang merupakan perwakilan Papua.

Jangan biarkan Dek Gam berjuang sendiri, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu perjuangan Persiraja, misal dengan membeli atribut dan merchandise resmi serta tiket terusan akan membantu operasional tim di Liga 1.

Wali Kota Banda Aceh tak salah jika membandingkan sosok Dek Gam dengan H. Dimurthala. Perjuangan Dek Gam dan H. Dimurthala sama-sama membawa harum nama Aceh dikasta sepakbola nasional.

Keduanya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan uang demi Persiraja. Sosok yang sulit ditemui saat ini di Aceh.

Lolos ke Liga 1 akan membuat sektor pariwisata dan UMKM di Banda Aceh semakin berkembang.

Liga 1 Indonesia musim 2020 direncanakan berlangsung Maret atau April 2020, tak banyak waktu tersisa untuk mempersiapkan tim.

Dibutuhkan dana setidaknya Rp 40 Miliar untuk mengarungi kompetisi bergengsi ini. Kita harapkan sponsor nasional ikut membantu Persiraja agar mampu mendatangkan pemain asing potensial dan pemain lokal berkualitas.

Sekali lagi, jangan biarkan Persiraja berjuang sendiri. Mari jadi bagian untuk menorehkan sejarah emas Persiraja juara Liga 1 Indonesia.

Kita sudah pernah membuktikannya di tahun 1980 lalu dan bukan mustahil jika 40 tahun kemudian tepatnya di tahun 2020, Persiraja kembali merajai kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Persiraja Lantak Laju, Bek Katem Taloe.

Oleh : DIAN RAHMAT SYAHPUTRA (REDAKTUR PELAKSANA WARTA BANDA ACEH & JURNALIS RADIO SENIOR)

Facebook Comments