Wakapolda Aceh yang Baru Sukses Bongkar Kasus Narkotika Terbesar

Banda Aceh - Brigjen Pol Drs Raden Purwadi SH resmi menjabat Wakapolda Aceh menggantikan Brigjen Pol Drs. Supriyanto Tarah MM. Pergantian tersebut tertuang dalam nomor ST/1383/KEP/2020 yang diteken Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramoni, Jum’at 1 Mei 2020.

Brigjen Pol Supriyanto Tarah ditunjuk sebagai Dirprog Serjana STIK Lemdiklat Polri. Sementara Brigjen Pol Reden Purwadi sebelumnya menjabat Karorenmin Lemdiklat Polri.

Selain Wakapolda, Kapolri juga merotasi sejumlah Kapolres di Aceh, seperti Kapolres Pidie, Kapolres, Kapolres Tamiang , Kapolres Aceh Besar dan sejumlah jabatan kapolres lainnya di lingkungan Polda Aceh.

Lantas, siapakah sosok Wakapolda Aceh yang baru ini. Berdasarkan penelusuran Harian Merdeka, Brigjen Raden Purwa meraih prestasi gemilang saat membongkar kasus narkotika di Bali saat menjabat Direktur Reserse Narkoba Polda Bali.

Warga berharap Wakapolda yang baru ini bisa bersinergi bersama Kapolda Aceh dan Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh untuk membongkar kasus Narkoba yang semakin meresahkan di Aceh.

Sebelumnya diberitakan, Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Ditnarkoba) Bareskrim Mabes Polri mengungkap jaringan narkoba terbesar di Bali dengan barang bukti ekstasi dan sabu senilai Rp 2,3 miliar. Peredaran barang haram tersebut dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan Bali.

"Ekstasi ini dari Malaysia. Sabu ini dari Cina. Kemudian dari 2 tempat itu bertemu di Bali. Mereka ini yang mengedarkan di seluruh tempat hiburan yang ada di Bali," ujar Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Kombes Nugroho Aji dalam jumpa pers bersama Direktur Reserse Narkoba Polda Bali Kombes Raden Purwadi di Kantor Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (16/3/2016).

Nugroho menjelaskan, jaringan tersebut sudah diintai sejak lama. "Ini dikendalikan dari oknum napi yang di LP. Kita akan tindak siapa pun yang terlibat. Kita tidak akan kalah dengan sindikat seperti ini. Baik yang dilindungi oknum atau tidak," kata Nugroho.

Nugroho membeberkan, pihaknya menangkap 3 tersangka dalam kasus ini. "(Mereka) Bisa mengendalikan karena ada HP. HP Ini bagaimana bisa masuk kita akan selidiki terus," kata dia.

Dalam jumpa pers itu dihadirkan 3 tersangka yang mengenakan penutup kepala berwarna hitam. Kombes Purwadi menjelaskan, tersangka pertama bernama I Made Putu alias Putu Leon (44) asal Bali. Dia berperan sebagai bandar maupun sebagai pemilik modal serta pengendali peredaraan narkoba.

Kedua, I Gede Putu Astawu alias Krecek (39). Dia berperan sebagai pengambil narkoba di LP Kerobokan. Ketiga, Cahyadi alias Bocah (38), asal Bali yang berperan sebagai pengedar narkoba di tempat-tempat hiburan yang ada di Bali.

"Modus operandinya diselundupkan lewat bandara melalui body wrapping. Mereka beroperasi sudah setahunan. Mereka dari kecil kemudian besar. Ya yang pasti mereka satu sindikat, mereka jaringan besar di Bali. Ini yang paling besar," tutur Purwadi.

Polisi Memperlihatkan Barang Bukti (Wisnu/detikcom)

Dalam kasus ini, polisi menyita 153 paket sabu siap edar yang merupakan kategori kelas satu dari Guangzhou. Selain itu disita ekstasi kategori kelas satu dari Malaysia. Ada juga uang tunai Rp 823.039.000, 950 dolar Australia dan 5 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu.

"Uang palsu ini akan kami selidiki kembali, apakah mereka mengedarkan atau memproduksi atau hanya sekadar hasil dari jualan itu. Nanti kami akan dalami," tutur Purwadi.

Selain narkoba dan uang, polisi juga menyita 1 unit mobil Rubicon, 1 unit motor Scoopy, 18 unit HP, buku catatan penjualan, 1 alat isap, 1 pedang samurai dan 1 unit senapan angin jenis airsoftgun.

"Barang bukti ini kalau dikumpulkan semua sejumlah Rp 2,3 miliar dan perkiraan korban yang terselamatkan setelah kita menangkap ini kurang lebih sebanyak 450 ribu orang," beber Purwadi.

Ketiga pelaku dijerat Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 32 Ayat 2 dan Pasal 112 UU No 35/2009 tentang Narkotika. Pelaku terancam penjara minimal 6 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

"Kami tidak sampai di sini. Kami dari Direktorat Polda Bali akan mengembangkan kasusnya," kata Purwadi.